12 Okt 2012
Lirik Lagu Intan RJ- Cinta Yang Baru
Pergi Dariku Dari Hidupku
Sudah Aku, Ku Tak Lagi Cinta Kamu
Kau Cari Saja Cinta Yang Baru
Cinta Yang bisa lebih dariku
Sudah Aku, Ku Tak Sanggup Terus Dengan Mu
7 Mar 2011
Kumpulan Judul KTI Kebidanan
1. HUBUNGAN ANTARA PARITAS, UMUR DENGANKEJADIAN RETENSIO PLASENTA DI RS….
2. HUBUNGAN ANTARA UMUR DENGAN KEJADIAN KANKER PAYUDARA
3. HUBUNGAN ANTARA PERITAS TERHADAP KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL
4. HUBUNGAN ANTARA PARITAS IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN KEPATUHAN DALAM MELAKUKAN IMUNISASI TT
5. HUBUNGAN PARITAS DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
6. HUBUNGAN ANTARA STATUS PEKERJAAN IBU TERHADAP PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI USIA 0-6 BULAN
7. HUBUNGAN UMUR DAN RIWAYAT PERSALINAN IBU TERHADAP KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR
8. HUBUNGAN UMUR DAN RIWAYAT PERSALINAN IBU TERHADAP KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR
9. HUBUNGAN UMUR DAN PARITAS TERHADAP KEJADIAN BBLR
10. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU TERHADAP PEMBERIAN MP-ASI DINI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN
11. HUBUNGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 0-6 BULAN
12. GAMBARAN PENYAKIT YANG TERJADI PADA LANSIA
13. HUBUNGAN SENAM HAMIL DENGAN PROSES PERSALINAN
14. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG SENAM HAMIL TERHADAP KEAKTIFAN DALAM MENGIKUTI SENAM HAMIL
15. HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK IBU NIFAS DENGAN PELAKSANAAN KUNJUNGAN NIFAS
16. HUBUNGAN INDEKS MASA TUBUH IBU DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 0-1 TAHUN
17. HUBUNGAN RIWAYAT PERSALINAN PREMATUR TERHADAP KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR
18. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU POST PARTUM TERHADAP PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR
19. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG POLIO TERHADAP PEMBERIAN VAKSIN POLIO PADA BAYI USIA 0-12 BULAN
20. HUBUNGAN UMUR TERHADAP KEJADIAN KANKER SERVIKS
JUDUL KTI 2010 (SUDAH DALAM BENTUK KTI LENGKAP)
1. HUBUNGAN USIA AWAL PEMBERIAN MP-ASI TERHADAP KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
2. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENOPAUSE TENTANG KEBUTUHAN GIZI PADA MASA MENOPAUSE
3. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DI …………….
4. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MP-ASI TERHADAP USIA AWAL PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
5. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF
6. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI
7. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG OLIGOMENORRHEA
8. KARAKTERISTIK DAN PENGETAHUAN IBU BALITA YANG TIDAK RUTIN BERKUNJUNG KEPOSYANDU
9. GAMBARAN PENGETAHUAN MAHASISWA KEBIDANAN...... TINGKAT III TENTANG INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
10. HUBUNGAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG INISIASI MENYUSU DINI TERHADAP PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD)
11. GAMBARAN PENATALAKSANAAN BREAST CARE PADA IBU 6 JAM POST PARTUM
12. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM NIFAS DI....
13. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG SENAM NIFAS TERHADAP PELAKSANAAN SENAM NIFAS PADA KELAS IBU
14. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU POSTPARTUM TENTANG KOLOSTRUM
15. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU POSTPARTUM TENTANG KOLOSTRUM TERHADAP PEMBERIAN KOLOSTRUM
16. GAMBARAN WANITA USIA SUBUR YANG MENGALAMI INFERTILITAS
17. GAMBARAN PENGETAHUAN SISWA KELAS VI TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
18. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG ANTENATAL
19. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG ANTENATAL TERHADAP KEPATUHAN DALAM MELAKUKAN KUNJUNGAN ANTENATAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
20. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU PASANGAN USIA SUBUR TENTANG ALAT KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN DAN 1 BULAN
21. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU PASANGAN USIA SUBUR TERHADAP PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK 3 BULAN DAN 1 BULAN
22. HUBUNGAN STATUS PEKERJAAN, PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
23. FAKTOR-FAKTOR BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA NEONATORUM
24. KARAKTERISTIK IBU MENYUSUI YANG TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF
25. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG PENTINGNYA NUTRISI UNTUK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA SISWA
26. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANEMIA DAN TABLET FE
27. PENGETAHUAN DAN KARAKTERISTIK IBU BALITA TENTANG IMUNISASI CAMPAK
28. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERNIKAHAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN
29. KARAKTERISTIK IBU YANG MENYAPIH BAYINYA DI BAWAH 1 TAHUN
30. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PELAKSANAAN PERAWATAN TALI PUSAT PADA BAYI
31. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL
32. GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
33. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN
34. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI
35. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI
Judul KTI Kebidanan
1. PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI HEPATITIS B DI POSYANDU ………… TAHUN 2010
2. TINJAUAN PENATALAKSANAAN KEJANG DEMAM DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT UMUM ………………… TAHUN 2010
3. GAMBARAN PENGETAHUAN TENAGA KESEHATAN TENTANG PAPSMEAR DI USKESMAS ……………… KECAMATAN ………………….. TAHUN 2010
4. GAMBARAN MOBILISASI DINI PADA IBU POST PARTUM DENGAN TINDAKAN OPERASI SEKSIO SESAREA TERHADAP PENGELUARAN LOCHEA DAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA OPERASI DI RSU. ……………………… TAHUN 2010
5. TINJAUAN EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI PADA AKSEPTOR KB PIL DI ………………………….
6. PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI VASEKTOMI DI LINGKUNGAN II KELURAHAN …………… KECAMATAN …………….
7. PENGETAHUAN IBU TENTANG PENGGANTI AIR SUSU IBU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………… TAHUN 2010
8. PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS PELAKSANA PENANGANAN PENDERITA NAPZA TENTANG PENATALAKSANAAN NAPZA DI PANTI REHABILITASI …………… TAHUN 2010
9. DETERMINAN PEMBERIAN KONSUMSI BUAH SEGAR PADA BALITA DI POSYANDU ………………….
10. KECEMASAN PASANGAN SUAMI ISTRI DENGAN INFERTIL PRIMER DI RUMAH BERSALIN …………………..
11. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI NIFAS DI RUANG KEBIDANAN RSU . …………………… TAHUN ………….
12. PENGETAHUAN DAN SIKAP AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI KELURAHAN …………………. TAHUN 2010
13. GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DEPOPROVERA DI …………………… KECAMATAN ………………… TAHUN 2010
14. GAMBARAN PERSYARATAN MINIMAL FASILITAS PELAYANAN AKDR DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS ………………… KECAMATAN …………………. KABUPATEN …………….
15. KARAKTERISTIK EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DI DESA ……………… KECAMATAN ……………….. KABUPATEN ………………… TAHUN 2010
16. PENGETAHUAN IBU TENTANG ABORTUS INCOMPLETUS DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM ……………………….. TAHUN 2010
17. TINJAUAN PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) KOLOSTRUM PADA IBU POST SECTIO CAESAREA DI RUANG KEBIDANAN RSU …………………….. TAHUN 2010
18. GAMBARAN PENGETAHUAN BIDAN TENTANG MANAJEMEN AKTIF KALA III DI RSUD. …………………….. TAHUN 2010
19. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN AKSEPTOR BARU KELUARGA BERENCANA ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI PUSKESMAS …………………..
20. PENGETAHUAN DAN SIKAP DUKUN TERLATIH DALAM MENOLONG PERSALINAN DI WILAYAH PUSKESMAS ……………… KECAMATAN …………….. KABUPATEN ………………
21. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI BPS ………………. TAHUN 2010
22. FAKTOR-FAKTOR ALASAN IBU MENGGANTI KONTRASEPSI PIL DENGAN KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS ……………….. TAHUN 2010
23. GAMBARAN FAKTOR PENYEBAB AKSEPTOR TIDAK MELANJUTKAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI IUD DI RB …………………… TAHUN 2010
24. PENGETAHUAN IBU BERSALIN TENTANG RAWAT GABUNG DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2010
25. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MENYUSUI DALAM MEMBERIKAN MAKANAN PENDAMPING ASI TERLALU DINI DI DESA ………………… TAHUN 2010
26. KARAKTERISTIK KANKER SERVIKS DI RUANG KEBIDANAN RSUD ………………..
27. TINJAUAN PENYEBAB DILAKUKANNYA CURETTAGE DI RUMAH SAKIT UMUM ……………… TAHUN 2003
28. PENGETAHUAN TENTANG ISPA PADA IBU YANG MEMILIKI BALITA SAKIT ISPA YANG BEROBAT KE PUSKESMAS ………….
29. TINJAUAN PELAKSANAAN KEGIATAN PONDOK SAYANG IBU (PSI) DI DESA BADAK WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
30. PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BIDAN TENTANG MANAJEMEN AKTIF KALA III DI WILAYAH PUSKESMAS……………………..
31. DETERMINAN PEMANFAATAN TENAGA BIDAN DESA DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
32. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG GEJALA-GEJALA FISIK MENOPAUSE DI KELURAHAN …………………..
33. PENGETAHUAN PASANGAN USIA SUBUR TENTANG KONTRASEPSI VASEKTOMI DI LINGKUNGAN II KELURAHAN ………………..
34. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP ………………. TAHUN 2010
35. DETERMINAN IBU TIDAK MENIMBANGKAN BALITANYA DI POSYANDU MELATI KELURAHAN …………………
36. GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI KELURAHAN ……………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS ………………. TAHUN 2010
37. PENGETAHUAN IBU TENTANG STIMULASI PADA BAYI USIA 0 – 12 BULAN DI KELURAHAN …………… WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………….
38. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST SEKSIO SESAREA TENTANG MOBILISASI DINI DI RUMAH BERSALIN ……………. TAHUN 2010
39. STUDI TENTANG MOTIVASI MAHASISWI MEMILIH PROFESI BIDAN DI PROGRAM STUDI KEBIDANAN ………………. TAHUN 2003 – 2010
40. KARAKTERISTIK IBU YANG MENYAPIH BAYI DI BAWAH USIA 1 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………. TAHUN 2010
41. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS PRANIKAH DI SMU …………….
42. PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG ANEMIA PADA KEHAMILAN DI PUSKESMAS ………………..
43. SIKAP IBU HAMIL TERHADAP PELAYANAN ANTENATAL DI PUSKESMAS ………………. KECAMATAN………………. TIMUR 2010
44. PELAKSANAAN RESUSITASI PADA BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA OLEH TENAGA KESEHATAN DI RUMAH BERSALIN ……………….
45. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG MASA NIFAS DI RUMAH BERSALIN ………………… TAHUN 2010
46. PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA SMU TENTANG SEKSUALITAS PADA REMAJA DI SMU …………………..
47. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU-IBU USIA 45 – 55 TAHUN TENTANG MENOPAUSE DI DESA ………………. TAHUN 2010
48. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA AWAL TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA PUBERTAS DI SLTPN ……………………..
49. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI RUANG KEBIDANAN RUMAH SAKIT UMUM ………………….
50. PENGETAHUAN SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI ………….. MENGENAI BAHAYA ROKOK TAHUN 2006
51. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS …………………. TAHUN 2006
52. PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT USIA 15 – 39 TAHUN MENGENAI MITOS, DISKRIMINASI DAN STIGMASI TERHADAP HIV/ AIDS DI ………………. TAHUN 2006
53. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI PADA SISWI KELAS II SMA ……………TAHUN 2006
54. PENGETAHUAN TENTANG GANGGUAN MENSTRUASI DAN PENATALAKSANAANNYA PADA REMAJA PUTRI KELAS II DI ……………… TAHUN 2006
55. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………..
56. GAMBARAN IBU HAMIL DENGAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………… TAHUN 2006
57. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIS PALSU DI BPS …………… TAHUN 2006
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MULTIPARA TENTANG KONTRASEPSI AKDR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………… TAHUN 2006
58. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA WANITA KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI ……………..
59. GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DI PUSKESMAS ………………….. TAHUN 2006
60. PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI PUSKESMAS ……………
61. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI PUSKESMAS ……………… TAHUN 2006
62. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS DI SMA ……………. TAHUN 2006
63. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK KEHAMILAN REMAJA DI SMA …………………….. TAHUN 2006
64. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG PERKEMBANGAN ORGAN SEKS SEKUNDER PADA MASA PUBERTAS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI …………………….. TAHUN 2006
65. DETERMINAN TIDAK DILAKUKANNYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MELALUI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) OLEH REMAJA PUTRI KELAS II DI …………………….. TAHUN 2006
66. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG TEHNIK MENGEJAN YANG BENAR SAAT PERSALINAN DI BPS …………………….. TAHUN 2006
67. KARAKTERISTIK KELUARGA DENGAN BALITA BERAT BADAN DI BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI DESA …………………….. TAHUN 2006
68. TINJAUAN PENATALAKSANAAN GIZI BURUK PADA BALITA OLEH TENAGA KESEHATAN DI …………………….. TAHUN 2006
69. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI DIBAWAH UMUR 6 BULAN DI DESA …………………….. TAHUN 2006
70. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI PADA SISWI KELAS II SMP ……………………..
71. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B1 SEGERA SETELAH LAHIR DI RUMAH BERSALIN …………………….. PERIODE FEBRUARI – APRIL TAHUN 2006.
72. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI ANAK PERTAMA TENTANG ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
73. KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
74. ALASAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI POSYANDU ……………………..
75. GAMBARAN TEKNIK MENYUSUI MINGGU PERTAMA PADA IBU PRIMIPARA DI BIDAN PRAKTEK SWASTA …………………….. TAHUN 2006
76. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI BPS …………………….. TAHUN 2006
77. PEMANTAUAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU SEJAHTERA V WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
78. GAMBARAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU DESA MUARA GADING MASWILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
79. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI BPS CH. SUDILAH KECAMATAN METRO BARAT KOTA METRO TAHUN 2006
80. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN FISIOLOGIS DAN KEPUTIHAN PATOLOGIS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI …………………….. 2006
81. DETERMINAN IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN IMUNISASI TETANUS TOKSOID ( TT ) LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ……………………..
82. KETERAMPILAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK MAHASISWI TINGKAT II PROGRAM STUDI KEBIDANAN …………………….. DI LAHAN PRAKTEK TAHUN 2006
83. PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI BIDAN PRAKTEK SWASTA (BPS) …………………….. TAHUN 2006
84. PENGETAHUAN IBU MENGENAI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI PUSKESMAS ……………………..
85. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PRAMENOPAUSE TENTANG OSTEOPOROSIS DI DESA …………………….. TAHUN 2006
86. PENGETAHUAN MAHASISWA TINGKAT II TENTANG PARTOGRAF DI PRODI KEBIDANAN …………………….. TAHUN 2007
87. PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK PADA BALITA USIA 3-5 TAHUN DI POSYANDU ……………………..
88. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PERAWATN BAYI PREMATUR OLEH TENAGA KESEHATAN DI RUANG ANAK RSU …………………….. TAHUN 2007
89. PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG STATUS GIZI PADA BALITA DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2007
90. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA PENGGUNAAN IMPLANT DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2006
91. PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA-TANDA PERSALINAN SEMU DI KLINIK …………………….. TAHUN 2007
92. GAMBARAN SIKAP DAN TINDAKAN AKSEPTOR KB DALAM MENGATASI EFEK SAMPING ALAT KONTRASEPSI SUNTIKAN (INJECTABLES) DI BPS …………………….. TAHUN 2007
93. PERILAKU REMAJA PUTRI DALAM MENANGANI KEPUTIHAN DI SEKOLAH MENENGAH UMUM NEGERI …………………….. TAHUN 2007
94. GAMBARAN PERILAKU IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN ASI PADA SATU HARI PERTAMA DI RB …………………….. TAHUN 2007
95. PENGETAHUAN DUKUN TERLATIH TENTANG TIGA BERSIH DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DI DESA …………………….. TAHUN 2007
96. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI SELAMA LAKTASI DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2007
97. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA MASTITIS PADA IBU POSTPARTUM DI BPS …………………….. TAHUN 2007
98. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
99. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIDAK TERATURNYA SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA TINGKAT IIB PROGRAM STUDI KEBIDANAN …………………….. TAHUN 2007
100. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG MANAJEMEN LAKTASI PADA PERIODE POSTNATAL DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK …………………….. TAHUN 2007
101. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KEIKUTSERTAAN SUAMI MENJADI AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA (KB) DI DESA ……………………..
102. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BERAT BADAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
103. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 3-7 BULAN DI DESA …………………….. TAHUN 2007
104. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PRE MENSTRUAL SYNDROM (PMS) PADA WANITA USIA 25-35 TAHUN DI KAMPUNG …………………….. WILAYAH PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
105. KARAKTERISTIK IBU DENGAN PERDARAHAN POST PARTUM DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
106. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB ……………………..
107. HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
108. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL YANG KE-EMPAT (K4) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2006
109. GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KETUBAN PECAH DINI DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
110. GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN EKSTRAKSI VAKUM DI RSUD. …………………….. TAHUN 2006.
111. GAMBARAN AKTIVITAS SEKSUAL WANITA MENOPAUSE DI DESA …………………….. TAHUN 2007
112. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI RUANG BERSALIN RSUD …………………….. TAHUN 2007
113. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN PEMBERIAN ASI PADA IBU DI DESA …………………….. TAHUN 2007
114. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PRE-OPERASI SEKSIO SESAREA DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2007
115. GAMBARAN PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI KELUARGA BERENCANA DI KELURAHAN …………………….. TAHUN 2006
116. PENGETAHUAN BIDAN TENTANG PENANGGULANGAN NYERI PERSALINAN NON FARMAKOLOGIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
117. PENGETAHUAN DAN SIKAP SISWA KELAS I SMP TENTANG PUBERTAS DI SMP …………………….. TAHUN 2007
118. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG MELAHIRKAN DI BIDAN DI DESA ……………………..
119. KARAKTERISTIK KEJANG DEMAM PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM …………………….. TAHUN 2007
120. TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KIA OLEH BIDAN DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
121. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KONSUMSI TABLET FE PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
122. PENGETAHUAN DAN SIKAP BIDAN DALAM PENATALAKSANAAN MANAJEMEN RUJUKAN PADA IBU BERSALIN DENGAN KELAINAN OBSTETRI DI WILAYAH PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
123. FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA AKSEPTOR IUD DI DESA …………………….. TAHUN 2007
124. GAMBARAN PENATALAKSANAAN PEMBERIAN ASI PADA IBU SEKSIO SESARIA DI RSU. …………………….. TAHUN 2007
125. GAMBARAN PERAN SERTA KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU DI KAMPUNG …………………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
126. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG DAMPAK PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA KURANG DARI 6 BULAN DI DESA …………………….. WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
127. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KANKER PAYUDARA DI SMA NEGERI …………………….. TAHUN 2007
128. FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PENGETAHUAN REMAJA AWAL TENTANG PENDIDIKAN SEKS DI SMP …………………….. TAHUN 2007
129. GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA KLIMAKTERIUM TENTANG MENOPAUSE DI …………………….. TAHUN 2007
130. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN NEONATAL DI BPS …………………….. TAHUN 2007
131. GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE EKLAMPSI DAN EKLAMPSI DI RUANG KEBIDANAN RSUD …………………….. TAHUN 2006
132. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA KUNJUNGAN BALITA DI POSYANDU ……………………..
133. GAMBARAN PUSKESMAS MAMPU PELAYANAN OBSTETRI DAN NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI PUSKESMAS ……………………..
134. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI KURANG DARI 6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
135. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PERDARAHAN ANTEPARTUM DI …………………….. TAHUN 2007
136. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TEKNIK PRENATAL BREASTCARE, POSTNATAL BREASTCARE DAN TEKNIK MENYUSUI DI RB …………………….. TAHUN 2007
137. KECEMASAN TERHADAP PERUBAHAN FISIK WANITA USIA 45-55 TAHUN DALAM MENGHADAPI MENOPAUSE DI …………………….. TAHUN 2007
138. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN HIPEREMISIS GRAVIDARUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
139. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB PETUGAS KESEHATAN TIDAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
140. GAMBARAN PENGETAHUAN PASANGAN INFERTIL TENTANG INFERTILITAS DI DESA ……………………..
141. TINJAUAN PENATALAKSANAAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT NON PNEMONIA PADA BALITA USIA 2 BULAN – 5 TAHUN DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
142. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KURANGNYA AKSEPTOR KB KONDOM DI PUSKESMAS …………………….. TAHUN 2007
143. PENGETAHUAN SISWA KELAS II SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 NATAR MENGENAI BAHAYA ROKOK TAHUN 2006
144. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP TANDA-TANDA BAHAYA KEHAMILAN DI PUSKESMAS METRO TAHUN 2006
145. PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT USIA 15 – 39 TAHUN MENGENAI MITOS, DISKRIMINASI DAN STIGMASI TERHADAP HIV/ AIDS DI LINGKUNGAN V WILAYAH 15 B TIMUR KELURAHAN IMOPURO METRO TAHUN 2006
146. PENGETAHUAN REMAJA TENTANG ABORSI PADA SISWI KELAS II SMA KARTIKATAMA METRO TAHUN 2006
147. PENGETAHUAN TENTANG GANGGUAN MENSTRUASI DAN PENATALAKSANAANNYA PADA REMAJA PUTRI KELAS II DI MADRASAH ALIYAH NEGERI I METRO TAHUN 2006
148. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA
149. GAMBARAN IBU HAMIL DENGAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA TAHUN 2006
150. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIS PALSU DI BPS MARTHA KOTA GAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN 2006
151. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MULTIPARA TENTANG KONTRASEPSI AKDR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARSARI KECAMATAN METRO UTARA TAHUN 2006
152. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA WANITA KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI MAN 2 METRO
153. GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DI PUSKESMAS PEKALONGAN KECAMATAN PEKALONGAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
154. PENATALAKSANAAN MANAJEMEN AKTIF KALA III OLEH BIDAN DI PUSKESMAS WAY URANG KECAMATAN KALIANDA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
155. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG PEMBERIAN KAPSUL VITAMIN A DI PUSKESMAS METRO TAHUN 2006
156. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG BAHAYA SEKS BEBAS DI SMA TELADAN METRO TAHUN 2006
157. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG DAMPAK KEHAMILAN REMAJA DI SMA KARTIKATAMA METRO TAHUN 2006
158. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG PERKEMBANGAN ORGAN SEKS SEKUNDER PADA MASA PUBERTAS DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 4 METRO TAHUN 2006
159. DETERMINAN TIDAK DILAKUKANNYA DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MELALUI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) OLEH REMAJA PUTRI KELAS II DI MAN 2 METRO TAHUN 2006
160. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG TEHNIK MENGEJAN YANG BENAR SAAT PERSALINAN DI BPS SUKATMI PEKALONGAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
161. KARAKTERISTIK KELUARGA DENGAN BALITA BERAT BADAN DI BAWAH GARIS MERAH (BGM) DI DESA MUARA GADING MAS KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
162. TINJAUAN PENATALAKSANAAN GIZI BURUK PADA BALITA OLEH TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS SUKARAJA NUBAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
163. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI DIBAWAH UMUR 6 BULAN DI DESA MUARA GADING MAS KECAMATAN LABUHAN MARINGGAI LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
164. PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI PADA SISWI KELAS II SMP NEGERI 3 METRO
165. PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B1 SEGERA SETELAH LAHIR DI RUMAH BERSALIN DO’A IBU PURBOLINGGO PERIODE FEBRUARI – APRIL TAHUN 2006.
166. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI ANAK PERTAMA TENTANG ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS METRO
167. KARAKTERISTIK SUAMI DENGAN IBU MENYUSUI DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS METRO KECAMATAN METRO PUSAT KOTA METRO TAHUN 2006
168. ALASAN IBU MELAKUKAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI POSYANDU BINTANG SEMBILAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PALAPA TANJUNG KARANG PUSAT
169. GAMBARAN TEKNIK MENYUSUI MINGGU PERTAMA PADA IBU PRIMIPARA DI BIDAN PRAKTEK SWASTA A GANJAR AGUNG KECAMATAN METRO BARAT TAHUN 2006
170. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KUNJUNGAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN DI BPS SUWARNI SUKARAJA NUBAN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
171. PEMANTAUAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU SEJAHTERA V WILAYAH KERJA PUSKESMAS IRING MULYO KELURAHAN IRINGMULYO METRO TIMUR
172. GAMBARAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU DESA MUARA GADING MASWILAYAH KERJA PUSKESMAS LABUHAN MARINGGAI TAHUN 2006
173. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN SENAM HAMIL DI BPS CH. SUDILAH KECAMATAN METRO BARAT KOTA METRO TAHUN 2006
174. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEPUTIHAN FISIOLOGIS DAN KEPUTIHAN PATOLOGIS DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 METRO TAHUN 2006
175. DETERMINAN IBU HAMIL TIDAK MELAKUKAN IMUNISASI TETANUS TOKSOID ( TT ) LENGKAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS YOSOMULYO KECAMATAN METRO PUSAT
176. KETERAMPILAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK MAHASISWI TINGKAT II PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO DI LAHAN PRAKTEK TAHUN 2006
177. PENGETAHUAN IBU POST PARTUM TENTANG PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR DI BIDAN PRAKTEK SWASTA (BPS) JUNAIRAH KALIANDA LAMPUNG SELATAN TAHUN 2006
178. PENGETAHUAN IBU MENGENAI KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI PUSKESMAS IRING MULYO METRO TIMUR
179. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PRAMENOPAUSE TENTANG OSTEOPOROSIS DI DESA TAMAN BOGO KECAMATAN PURBOLINGGO KABUPATEN LAMPUNG TIMUR TAHUN 2006
6 Apr 2010
Epilepsi
Lembar Fakta N ° 999
Januari 2009
Epilepsi
Fakta kunci
* Epilepsi adalah gangguan saraf kronis yang mempengaruhi orang-orang dari segala usia.
* Sekitar 50 juta orang di seluruh dunia telah epilepsi.
* Hampir 90% dari orang-orang dengan epilepsi ditemukan dalam mengembangkan daerah.
* Epilepsi merespon pengobatan sekitar 70% dari waktu, namun sekitar tiga perempat dari para korban di negara-negara berkembang tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
* Orang dengan epilepsi dan keluarga mereka bisa menderita stigma dan diskriminasi di berbagai belahan dunia.
Epilepsi adalah gangguan kronis otak yang mempengaruhi orang di setiap negara di dunia. Hal ini ditandai dengan kejang berulang - yang adalah reaksi fisik untuk tiba-tiba, biasanya singkat, melepaskan listrik berlebihan dalam kelompok sel otak. bagian-bagian berbeda dari otak dapat menjadi tempat buangan tersebut.
Link terkait
- Lebih lanjut tentang epilepsi
- Kampanye Global Melawan Epilepsi
- Publikasi: gangguan neurologis, termasuk epilepsi
- Epilepsi: manual bagi petugas medis dan klinis di Afrika [pdf 498kb]
Kejang dapat bervariasi dari penyimpangan singkat perhatian atau otot tersentak, untuk kejang parah dan berkepanjangan (yaitu kontraksi kekerasan dan paksa, atau serangkaian kontraksi, otot-otot). Kejang juga dapat bervariasi dalam frekuensi, dari kurang dari satu per tahun ke beberapa per hari.
Epilepsi merupakan salah satu kondisi tertua di dunia yang diakui. Takut, kesalahpahaman, diskriminasi dan stigma sosial telah mengepung epilepsi selama berabad-abad. Beberapa stigma terus hari ini di banyak negara dan dapat berdampak pada kualitas hidup orang-orang dengan gangguan dan keluarga mereka.
Epilepsi meningkatkan risiko seseorang kematian dini sekitar dua sampai tiga kali dibandingkan dengan populasi umum.
Satu kejang tidak sinyal epilepsi (hingga 10% dari orang di seluruh dunia memiliki satu penyitaan sepanjang hidup mereka). Epilepsi didefinisikan oleh dua atau lebih kejang tak beralasan.
Tanda dan gejala
Karakteristik kejang bervariasi dan tergantung pada tempat di otak gangguan mulai pertama, dan seberapa jauh menyebar. Sementara gejala dapat terjadi, seperti kehilangan kesadaran atau kesadaran, dan gangguan gerakan, sensasi (termasuk penglihatan, pendengaran dan rasa), suasana hati atau fungsi mental.
Orang dengan kejang cenderung memiliki lebih banyak masalah fisik (seperti patah tulang dan memar), tingginya tingkat penyakit lain atau masalah psikososial.
Harga dari penyakit
Estimasi Proporsi populasi umum dengan epilepsi aktif (yaitu kejang melanjutkan atau kebutuhan untuk perawatan) pada waktu tertentu adalah antara 4 sampai 10 per 1.000 orang. Namun, beberapa studi di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa proporsi ini antara 6 sampai 10 per 1.000. Sekitar 50 juta orang di dunia memiliki epilepsi.
Di negara-negara maju, kasus baru per tahun adalah antara 40-70 per 100 000 orang dalam populasi umum. Di negara-negara berkembang, angka ini sering dekat dengan dua kali lebih tinggi karena risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Hampir 90% kasus epilepsi di seluruh dunia ditemukan di negara berkembang.
Penyebab
Jenis yang paling umum - untuk enam dari sepuluh orang dengan kekacauan - disebut epilepsi idiopatik dan tidak diketahui penyebabnya.
Epilepsi dengan diketahui penyebabnya disebut epilepsi sekunder atau epilepsi simtomatik. Penyebabnya bisa kerusakan otak dari hilangnya oksigen atau trauma saat kelahiran, pukulan berat ke kepala, stroke yang kelaparan oksigen otak, infeksi otak seperti meningitis, atau tumor otak.
Faktor risiko
* Head trauma, infeksi sistem saraf pusat dan tumor yang berhubungan dengan epilepsi sekunder.
* Untuk penduduk muda, komplikasi perinatal, bawaan, kondisi perkembangan dan genetik yang terkait dengan epilepsi.
* Penyakit Cerebrovascular - kondisi yang mempengaruhi otak dan pembuluh darah - merupakan faktor risiko yang paling umum pada usia lanjut.
* Sebuah riwayat keluarga epilepsi tampaknya meningkatkan pengaruh faktor-faktor risiko lainnya.
Pengobatan
Penelitian terbaru di negara maju dan berkembang telah menunjukkan bahwa hingga 70% dari anak-anak yang baru didiagnosa dan orang dewasa dengan epilepsi dapat diatasi (yaitu kejang mereka sepenuhnya dikendalikan) dengan obat anti-epilepsi. Setelah dua sampai lima tahun pengobatan berhasil, obat-obatan dapat ditarik dalam sekitar 70% dari anak-anak dan 60% dari orang dewasa tanpa kambuh.
* Di negara-negara berkembang, tiga perempat orang dengan epilepsi mungkin tidak akan menerima perlakuan yang mereka butuhkan.
* Tentang 9 dari 10 orang dengan epilepsi di Afrika pergi tidak diobati.
* Terapi Bedah mungkin bermanfaat bagi pasien yang kurang respon terhadap perawatan obat.
Pencegahan
epilepsi idiopatik tidak dicegah. Namun, tindakan pencegahan dapat diterapkan untuk diketahui penyebab epilepsi sekunder.
* Mencegah cedera kepala adalah cara paling efektif untuk mencegah epilepsi pasca-trauma.
* Perawatan yang memadai perinatal dapat mengurangi kasus baru epilepsi disebabkan oleh cedera lahir.
* Penggunaan obat dan metode lain untuk menurunkan suhu tubuh anak demam dapat mengurangi kemungkinan dari kejang dan epilepsi berikutnya.
* Pusat infeksi sistem saraf sering menyebabkan epilepsi di daerah tropis, di mana banyak negara berkembang terkonsentrasi. Penghapusan parasit dalam lingkungan dan pendidikan tentang cara untuk menghindari infeksi akan efektif cara untuk mengurangi epilepsi di seluruh dunia.
Sosial dan dampak ecomomic
Meskipun dampak sosial bervariasi dari satu negara ke negara, diskriminasi dan stigma sosial yang mengelilingi seluruh dunia epilepsi sering lebih sulit diatasi daripada serangan sendiri.
Orang dengan epilepsi dapat sasaran prasangka. Stigma gangguan dapat mencegah orang dari mencari pengobatan untuk gejala dan menjadi diidentifikasi dengan gangguan ini.
Epilepsi memiliki implikasi ekonomi yang signifikan dalam hal kebutuhan perawatan kesehatan, kematian dini dan kehilangan produktivitas kerja. Sebuah studi India menghitung bahwa total biaya per kasus epilepsi adalah US $ 344 per tahun (atau 88% dari pendapatan rata-rata per kapita). Total biaya untuk lima juta kasus di India diperkirakan setara dengan 0,5% dari produk nasional bruto.
Hak Asasi Manusia
Orang-orang dengan pengalaman epilepsi mengurangi akses terhadap kesehatan dan asuransi jiwa, sebuah pemotongan kesempatan untuk mendapatkan surat izin mengemudi, dan hambatan untuk memasuki pekerjaan tertentu, antara lain keterbatasan. Di banyak negara legislasi abad mencerminkan kesalahpahaman tentang epilepsi. Sebagai contoh:
* Dalam kedua Cina dan India, epilepsi ini sering dilihat sebagai alasan untuk melarang atau membatalkan pernikahan.
* Di Britania Raya, sebuah undang-undang melarang orang-orang dengan epilepsi untuk menikah adalah hanya dicabut pada tahun 1970.
* Di Amerika Serikat, sampai tahun 1970-an, itu hukum untuk menyangkal orang dengan kejang akses dengan restoran, bioskop, pusat rekreasi dan bangunan publik lainnya.
Legislasi berdasarkan standar yang diterima secara internasional hak asasi manusia dapat mencegah diskriminasi dan pelanggaran hak-hak, meningkatkan akses ke pelayanan perawatan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
WHO respon
WHO dan mitra mengakui epilepsi yang merupakan keprihatinan kesehatan masyarakat yang utama. WHO, International League Against Epilepsi (ILAE) dan Biro Internasional untuk Epilepsi (IBE) sedang melakukan kampanye global untuk menyediakan informasi yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran tentang epilepsi, dan memperkuat upaya publik dan swasta untuk meningkatkan perawatan dan mengurangi dampak gangguan itu.
Sumber: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs999/en/index.html
Kejang demam adalah jenis yang paling umum dari kejang diamati pada kelompok usia anak.
Meskipun dijelaskan oleh orang Yunani kuno, hal itu tidak sampai abad ini bahwa kejang demam adalah diakui sebagai sindrom yang berbeda yang terpisah dari epilepsi. Pada tahun 1980, sebuah konferensi konsensus yang diselenggarakan oleh Institut Kesehatan Nasional kejang karena demam yang dijelaskan sebagai, "Suatu kejadian pada masa bayi atau masa kanak-kanak biasanya terjadi antara tiga bulan dan lima tahun, berhubungan dengan demam, tapi tanpa bukti infeksi intrakranial atau penyebab pasti ". 1 Itu tidak mengecualikan anak-anak dengan gangguan neurologis sebelumnya dan tidak memberikan kriteria suhu tertentu atau mendefinisikan sebuah serangan "." Definisi lain dari Liga Internasional Melawan Epilepsi (ILAE) adalah "sebuah serangan terjadi di masa kanak-kanak setelah usia 1 bulan terkait dengan penyakit demam bukan disebabkan oleh infeksi sistem saraf pusat (SSP), tanpa kejang neonatal sebelumnya atau sebelumnya tak beralasan kejang, dan tidak memenuhi kriteria untuk lainnya kejang gejala akut ". 2
For other information, see Medscape's Pediatrics Specialty page. Untuk informasi lainnya, lihat Medscape's Pediatric Specialty halaman.
Pathophysiology Patofisiologi
kejang demam terjadi pada anak-anak pada waktu dalam perkembangan mereka ketika ambang kejang rendah. Ini adalah saat ketika anak-anak yang rentan terhadap infeksi masa kanak-kanak sering seperti infeksi pernafasan atas, otitis media , sindrom virus, dan mereka merespon dengan suhu yang lebih tinggi comparably. Penelitian terhadap hewan menunjukkan peran yang mungkin dari pirogen endogen, seperti 1beta interleukin, bahwa, dengan meningkatkan rangsangan saraf, dapat membuat link dan aktivitas kejang demam. 3 Studi awal pada anak-anak muncul untuk mendukung hipotesis bahwa jaringan sitokin diaktifkan dan dapat berperan pada patogenesis kejang demam, tetapi arti klinis dan patologis yang tepat dari pengamatan ini masih belum jelas. 4 , 5
kejang demam dibagi menjadi 2 jenis: kejang demam sederhana (yang umum, <15 menit terakhir dan tidak terulang kembali dalam waktu 24 jam) dan kejang demam kompleks (yang lama, kambuh lebih dari sekali dalam 24 jam, atau fokus). 6 Kompleks kejang demam dapat menunjukkan suatu penyakit yang proses lebih serius, seperti meningitis , abses, atau ensefalitis .
literatur terbaru mendokumentasikan keberadaan virus herpes simpleks manusia 6 (HHSV-6) sebagai agen etiologi di roseola pada sekitar 20% dari kelompok pasien datang dengan kejang demam pertama mereka gastroenteritis Shigella. juga telah dikaitkan dengan kejang demam. Satu studi menunjukkan hubungan antara kejang demam berulang dan influenza A. 7 , 8
kejang demam cenderung terjadi dalam keluarga. Pada anak dengan kejang demam, risiko kejang demam adalah 10% untuk saudara dan hampir 50% untuk saudara jika orangtua memiliki kejang demam juga. Although clear evidence exists for a genetic basis of febrile seizures, the mode of inheritance is unclear. 9 Meskipun bukti yang jelas ada untuk secara genetik kejang demam, modus dari warisan tidak jelas. 9
Sementara warisan poligenik mungkin, sejumlah kecil keluarga yang diidentifikasi dengan pola dominan autosomal dari warisan dari kejang demam, yang mengarah pada deskripsi suatu sifat "kerentanan kejang demam" dengan pola dominan autosom dengan penetrasi warisan berkurang. Meskipun mekanisme molekuler yang tepat dari kejang demam yang belum dipahami, mutasi yang mendasari telah ditemukan dalam pengkodean gen saluran natrium dan gamma amino-butirat A reseptor asam. 10 , 11 , 12
Frequency Frekuensi
United States Amerika Serikat
Antara 2% dan 5% dari anak-anak kejang demam dengan ulang tahun kelima mereka. 13
International Internasional
Tingkat kejang demam serupa ditemukan di Eropa Barat. 15 Insiden lain di dunia bervariasi antara 5% dan 10% untuk India, 8,8% untuk Jepang, 14% untuk Guam, 14 0,35% untuk Hong Kong, dan 0,5-1,5% untuk Cina. 15
Mortality/Morbidity Mortalitas / Morbiditas
Anak-anak dengan kejang demam sederhana tidak memiliki peningkatan risiko kematian. Namun, kejang yang kompleks, terjadi sebelum usia 1 tahun, atau dipicu oleh suhu 39 <° C dikaitkan dengan meningkatnya angka kematian flip-2 selama 2 tahun pertama setelah terjadinya serangan. 16
Anak-anak dengan kejang demam memiliki sedikit insiden epilepsi lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum (2% vs 1%). Faktor risiko untuk epilepsi di kemudian hari termasuk kejang demam kompleks, riwayat keluarga epilepsi atau abnormalitas neurologis, dan gangguan perkembangan. Pasien dengan faktor risiko 2 memiliki sampai 10% peluang pengembangan kejang afebrile. 17 , 18
Sumber:http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.biomedsearch.com/nih/Incidence-febrile-seizures-in-thalassemic/15471304.html
Diterima Sep 19, 2001; diterima 17 Mei 2001.
Susan S. Chiu *, * Tse Catherine YC, Yu * Lung Lau, dan PeirisDagger Malik
Dari Departemen Pediatrics * dan Mikrobiologi Belati, University of Hong Kong, Hong Kong SAR, Cina.
Tujuan. Untuk membandingkan kejadian kejang demam pada anak-anak dirawat di rumah sakit untuk influenza A infeksi dengan parainfluenza dan infeksi adenovirus dan untuk menguji hipotesis bahwa anak-anak dirawat di rumah sakit untuk influenza A Sydney/H3N2 (varian) selama musim 1998 di Hong Kong telah kejang lebih sering dan refraktori ketika dibandingkan dengan virus pernapasan lainnya, termasuk varian / A Wuhan H3N2 yang hadir pada tahun sebelumnya.
Metode. catatan medis anak-anak antara 6 bulan dan 5 tahun untuk influenza A mengakui infeksi pada tahun 1998 telah dibahas. Sebagai perbandingan, catatan anak-anak dari kelompok usia yang sama dengan infeksi influenza A pada tahun 1997, dan dengan parainfluenza dan infeksi adenovirus antara 1996 dan 1998, ditinjau ulang. Anak-anak yang afebrile atau yang memiliki gangguan neurologis yang mendasarinya tidak dilibatkan.
Hasil. Anak-anak dirawat di rumah sakit untuk A influenza pada tahun 1998, dan 1997 54/272 (19,9%) dan 27/144 (18,8%) memiliki kejang demam, masing-masing. Keseluruhan kejadian kejang demam yang terkait dengan influenza A (19,5%) lebih tinggi dibanding pada anak-anak dirawat di rumah sakit untuk parainfluenza (18/148; 12,2%) dan adenovirus (18/199; 9%) infeksi, masing-masing. Pada anak-anak yang kejang demam, kejang berulang lebih umumnya terkait dengan influenza A infeksi dibandingkan dengan parainfluenza atau infeksi adenovirus (23/81 [28%] vs] 3 / 36 [8,3%, rasio odds [OR] 4,3, kepercayaan 95% Interval: 1,2-15,4). Atau, anak-anak dengan infeksi influenza A memiliki insiden yang lebih tinggi (23/416, 5,5%) dari beberapa kejang pada penyakit yang sama daripada mereka yang adenovirus atau infeksi parainfluenza (3 / 347, 0,86%; OR 6,7, 95% interval keyakinan: 2,0 -22,5) Insiden meningkat dari kejang demam yang terkait dengan. influenza A tidak timbul dari perbedaan usia, jenis kelamin, atau riwayat keluarga kejang demam. Analisis multivariat, disesuaikan dengan suhu puncak dan durasi demam, menunjukkan bahwa anak-anak dirawat di rumah sakit terinfeksi dengan infeksi A memiliki risiko yang lebih tinggi dari kejang demam dari mereka yang terinfeksi dengan parainfluenza atau adenovirus (OR 1,97). Infeksi Influenza A adalah penyebab signifikan penerimaan kejang demam. 250 dan 249 anak-anak dirawat di Rumah Sakit Queen Mary untuk kejang demam pada tahun 1997 dan 1998, masing-masing, infeksi influenza A menyumbang 27% (10,8) penerimaan pada tahun 1997 dan 54 (21,7%) pada tahun 1998. Selama bulan kegiatan influenza puncak, itu dicatat sampai dengan 35% menjadi 44% dari penerimaan kejang demam. Sebaliknya, parainfluenza, adenovirus, virus pernapasan, dan influenza B memiliki kontribusi lebih kecil untuk dirawat di rumah sakit untuk kejang demam, bersama-sama akuntansi hanya 25/250 (10%) penerimaan pada tahun 1997 dan 16/249 (6,4%) pada tahun 1998.
Kesimpulan. Influenza A varian Sydney (H3N2) tidak berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam bila dibandingkan dengan sebelumnya influenza A varian Wuhan (H3N2) atau virus H1N1. Namun, di rumah sakit anak-anak, influenza A adalah terkait dengan insiden yang lebih tinggi kejang demam dan kejang berulang dalam episode demam yang sama daripada adenovirus atau infeksi parainfluenza. Patogenesis pengamatan ini waran studi tambahan. kejang demam kompleks, kejang demam terutama beberapa pada saat presentasi, telah berpikir untuk membawa sebuah prognosis jangka panjang yang merugikan karena hubungannya dengan kejadian epilepsi lebih tinggi. Kejang demam berulang sendiri, terutama jika dikaitkan dengan infeksi influenza A, mungkin tidak mengkhawatirkan sebagai anak-anak dengan kejang demam kompleks karena penyebab lainnya, yang memerlukan investigasi lebih lanjut. Ini selanjutnya dapat berdampak pada mengurangi beban evaluasi dalam subset dari anak-anak dengan kejang demam kompleks. Kata kunci: Sebuah influenza, kejang demam, kejang demam, kejang beberapa, adenovirus, parainfluenza.
Kejadian kejang demam di Finlandia: Penelitian berbasis populasi calon.
Kejadian kejang demam di Finlandia: Penelitian berbasis populasi calon.
Sillanpää M , Camfield P , Camfield C , Haataja L , Aromaa M , Helenius H , Rautava P , Hauser WA . Sillanpää M , P Camfield , C Camfield , L Haataja , M Aromaa , H Helenius , P Rautava , WA Hauser .
Department of Public Health, University of Turku, Turku, Finland. Departemen Kesehatan Masyarakat, Universitas Turku, Turku, Finlandia. matti.sillanpaa@utu.fi matti.sillanpaa @ utu.fi
The objective was to study the incidence of febrile seizures prospectively determined through age 4 years. Tujuannya adalah untuk mempelajari kejadian kejang demam prospektif ditentukan melalui usia 4 tahun. A standardized randomized cluster sample of nulliparous pregnant women from a geographically defined area were prospectively followed from the beginning of pregnancy through the child's age 4. Sebuah sampel acak klaster standar wanita hamil nulipara dari wilayah geografis pasti tersebut prospektif diikuti dari awal kehamilan sampai usia anak 4. Data on children eligible for the study (n = 1287), including febrile seizures, sociodemographic data, developmental milestones, and chronic diseases, were prospectively collected from families and health care staff. Data anak-anak yang memenuhi syarat untuk penelitian (n = 1287), termasuk kejang demam, data sosiodemografi, tahap perkembangan, dan penyakit kronis, yang prospektif dikumpulkan dari keluarga dan staf perawatan kesehatan. Data were available for 1033 children. Data tersedia untuk 1033 anak-anak. Through age 4, the average annual incidence of febrile seizures was 14 per 1000 person-years (15 for girls and 13.5 for boys). Melalui umur 4, rata-rata tahunan kejadian kejang demam adalah 14 per 1000 orang-tahun (15 untuk perempuan dan 13,5 untuk laki-laki). The incidence rate through age 4 was 6.9% (7.3% for girls and 6.5% for boys). Tingkat kejadian sampai usia 4 adalah 6,9% (7,3% untuk perempuan dan 6,5% untuk anak laki-laki). The incidence rate of febrile seizures in Finnish children is comparable to that reported previously. Tingkat kejadian kejang demam pada anak-anak Finlandia adalah sebanding dengan yang dilaporkan sebelumnya. The higher figure, based on prospective rather than retrospective data, may give a more accurate picture of the clinical importance of febrile seizures. Sosok yang lebih tinggi, berdasarkan calon, bukan data retrospektif, mungkin memberikan gambaran yang lebih akurat tentang pentingnya klinis kejang demam.
Kematian Dari kejang demam Langka di Anak-anak
Bahkan dalam kasus-kasus berisiko tinggi, penelitian menemukan Denmark tingkat yang sama dengan anak-anak dalam populasi umum
Kamis, 7 Agustus (HealthDay News) - Bahkan pada anak berisiko tinggi, kematian akibat demam (demam-linked) kejang jarang terjadi, kata peneliti Denmark yang menganalisis data 1,6 juta anak-anak.
kejang demam, kejang umum yang disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh, mempengaruhi 2 persen sampai 5 persen anak di bawah usia 5 tahun. Sekitar sepertiga anak-anak yang terkena dampak memiliki lebih dari satu episode kejang. Banyak orangtua takut anak mereka sedang sekarat selama kejang demam dan khawatir kematian mungkin terjadi selama kejang berikutnya, sesuai dengan informasi latar belakang dalam siaran berita tentang penelitian ini.
Studi ini termasuk hampir 1.676.000 anak yang lahir di antara tahun 1977 dan Denmark tahun 2004, yang diikuti dari tiga bulan usia sampai kematian, emigrasi atau 31 Agustus 2005. Di antara anak-anak, ada sebanyak 8.172 kematian, termasuk 232 kematian di antara 55.215 anak-anak dengan riwayat kejang demam.
Secara keseluruhan, 132 per 100.000 anak meninggal dalam waktu dua tahun dari kejang demam dibandingkan dengan 67 per 100.000 anak tanpa sejarah kondisi.
Lamanya episode demam sepertinya penting, namun. Tingkat kematian untuk anak-anak dengan kejang demam sederhana (yang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam waktu 24 jam) adalah sama dengan anak-anak di populasi umum. Sebaliknya, tingkat kematian untuk anak-anak dengan kejang demam kompleks (berlangsung lebih dari 15 menit atau berulang dalam waktu 24 jam) adalah dua kali lebih tinggi dalam dua tahun setelah serangan daripada populasi umum.
Tapi para peneliti menekankan bahwa resiko kematian keseluruhan pada anak dengan kejang demam adalah kecil - 2 kematian per 1.500 anak, dibandingkan dengan 1 kematian per 1.500 anak di populasi umum.
"Anak-anak dengan kejang demam sederhana mempunyai risiko kematian sama dengan latar belakang penduduk, sedangkan yang dengan kejang demam kompleks, kejang demam dipicu oleh suhu di bawah 39 derajat C, dan kejang demam terjadi sebelum usia 12 bulan mempunyai mortalitas dua kali lipat lebih tinggi abadi selama dua tahun. mortalitas setidaknya sebagian karena kelainan neurologis yang sudah ada dan epilepsi selanjutnya ... Orangtua harus diyakinkan bahwa kematian setelah kejang demam sangat jarang, bahkan pada anak-anak berisiko tinggi, "para peneliti menyimpulkan.
Penelitian ini diterbitkan dalam edisi minggu ini dari The Lancet.
US National Institute of Neurological Disorders dan Stroke telah lebih lanjut tentang kejang demam
Sumber: http://www.wrongdiagnosis.com/hd/news/618249.death-from-febrile-seizure-rare-in-children.htm
Kematian Dari kejang demam Langka di Anak-anak
Bahkan dalam kasus-kasus berisiko tinggi, penelitian menemukan Denmark tingkat yang sama dengan anak-anak dalam populasi umum
Kamis, 7 Agustus (HealthDay News) - Bahkan pada anak berisiko tinggi, kematian akibat demam (demam-linked) kejang jarang terjadi, kata peneliti Denmark yang menganalisis data 1,6 juta anak-anak.
kejang demam, kejang umum yang disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh, mempengaruhi 2 persen sampai 5 persen anak di bawah usia 5 tahun. Sekitar sepertiga anak-anak yang terkena dampak memiliki lebih dari satu episode kejang. Banyak orangtua takut anak mereka sedang sekarat selama kejang demam dan khawatir kematian mungkin terjadi selama kejang berikutnya, sesuai dengan informasi latar belakang dalam siaran berita tentang penelitian ini.
Studi ini termasuk hampir 1.676.000 anak yang lahir di antara tahun 1977 dan Denmark tahun 2004, yang diikuti dari tiga bulan usia sampai kematian, emigrasi atau 31 Agustus 2005. Di antara anak-anak, ada sebanyak 8.172 kematian, termasuk 232 kematian di antara 55.215 anak-anak dengan riwayat kejang demam.
Secara keseluruhan, 132 per 100.000 anak meninggal dalam waktu dua tahun dari kejang demam dibandingkan dengan 67 per 100.000 anak tanpa sejarah kondisi.
Lamanya episode demam sepertinya penting, namun. Tingkat kematian untuk anak-anak dengan kejang demam sederhana (yang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam waktu 24 jam) adalah sama dengan anak-anak di populasi umum. Sebaliknya, tingkat kematian untuk anak-anak dengan kejang demam kompleks (berlangsung lebih dari 15 menit atau berulang dalam waktu 24 jam) adalah dua kali lebih tinggi dalam dua tahun setelah serangan daripada populasi umum.
Tapi para peneliti menekankan bahwa resiko kematian keseluruhan pada anak dengan kejang demam adalah kecil - 2 kematian per 1.500 anak, dibandingkan dengan 1 kematian per 1.500 anak di populasi umum.
"Anak-anak dengan kejang demam sederhana mempunyai risiko kematian sama dengan latar belakang penduduk, sedangkan yang dengan kejang demam kompleks, kejang demam dipicu oleh suhu di bawah 39 derajat C, dan kejang demam terjadi sebelum usia 12 bulan mempunyai mortalitas dua kali lipat lebih tinggi abadi selama dua tahun. mortalitas setidaknya sebagian karena kelainan neurologis yang sudah ada dan epilepsi selanjutnya ... Orangtua harus diyakinkan bahwa kematian setelah kejang demam sangat jarang, bahkan pada anak-anak berisiko tinggi, "para peneliti menyimpulkan.
Penelitian ini diterbitkan dalam edisi minggu ini dari The Lancet.
US National Institute of Neurological Disorders dan Stroke telah lebih lanjut tentang kejang demam
Sumber: http://www.wrongdiagnosis.com/hd/news/618249.death-from-febrile-seizure-rare-in-children.htm
Kejang demam
Anak-anak di bawah usia enam tahun rentan terhadap kejang ketika
mereka demam tinggi. Ini dikenal sebagai kejang demam
dan tidak epilepsi. Fenomena ini terjadi di seluruh
dunia. Orangtua disarankan untuk mengurangi demam sedini
mungkin dengan: (1) hangat-hangat kuku spons setiap kali suhu
menyentuh 100 ° F, dan (2) segera administrasi obat-obatan
untuk menurunkan suhu. Banyak orangtua anak-anak mereka menutupi
dengan selimut selama demam. Hal ini tidak biasa untuk melihat
orangtua di banyak tempat di Bangladesh, India dan Sri Lanka
membawa anak-anak benar-benar tertutup ke klinik. Ini lagi
karena pemahaman bahwa demam selama, pasien merasa
dingin. Namun, meliputi anak dengan selimut membuat
hangat suhu tubuh dan meningkatkan lebih lanjut. Mereka harus
disarankan untuk mengekspos anak-anak mereka daripada menutupi mereka
selama demam. Selain itu, dubur / diazepam lisan harus
diberikan pada awal demam. Secara umum, ini
anak-anak tidak memerlukan terapi obat antiepileptic, sejak
kejang demam adalah kondisi jinak, menghilang
spontan setelah enam tahun.
Epilepsi
Sumber: http://www.searo.who.int/LinkFiles/Information_and_Documents_whydoes.pdf
26 Feb 2010
31 Jan 2010
"YESUS KAU KEBENARAN"
Kau kbnaran yg mNylmatkan Q..
Kau m'brikan Q hdp & pNghrpan..
Q ikt khndakMu..
Q prlu aNugrhMu..
Kau nytkan jNjiMu kpd Q..
Kala Q hdp, Q hdp bgMu..
Hati Q ttap mNymbhMu..
Dunia tak bz m'jauhkan Q dri kshMu..
Slma Q hdp, Q hdp bgMu..
Mta Q ttp mMndangMu..
Dunia tak bz m'jauhkan Q dri kShMu...
30 Jan 2010
Senandung Rindu

kukibaskan hujan malam ini.
kemudian sekelebat sunyi menggangguku.
aku diam.
tak bergerak.
menunggu angin antarkan kau pulang.
sejurus mata memandang sayu.
setengah kantuk kuhitung rindu.
kulihat bintang yang selalu satu.
mana dirimu?
kurebahkan diri pada kursi kayu itu.
yang selalu tersenyum melihat kau datang.
namun kini ia terbujur beku dingin dan kaku.
kembali padaku laksamana,
kita kembalikan derai canda yang tersapu badai.
kita naikan gemuruh cinta yang terhempas buih.
kita pancangkan janji.
kita sudahi penantian ini.
_________________________________
namun hanya denting malam yang menjawab isakku.
dan sepucuk surat,
serta karangan bunga dari pusaramu, laksamanaku.
27 Jan 2010
"RINDUKU HANYA UNTUKMU"
K3R!nDuAn

entah mengapa…
setiap detik ku selalu mengingat wajahmu…
entah mengapa..
setiap ku merenung teringat namamu..
entah mengapa…
ini terjadi padaku
tak bisa kutahan gejolak rasa rindu
tak bisa kutahan mendengar suaramu
tak bisa kutahan ingin berjumpa denganmu
tak bisa kutahan derap langkahku segera menghampirimu.
ku mohon terus pertahankan rasa ini
kumohon jangan pisahkan ia dari diri.. ini
kumohon berikan kebahagian ini abadi
semoga ini menjadi cinta terakhir untuk ku.
--
"RINDU YANG MENCEKAM"

Bintang yang terang
sinarmu sungguh indah
keindahanmu mengingatkan aku
pada seseorang…………
dimana aku sangat merindukannya
malam yang begitu sunyi……….
mengapa dia tak hadir untuk menemaniku
angin yang berhembs dengan kencang……….
Tuhan sampaikan salam ku padanya
bahwa aku sangat merindukannya
kuingin dia selalu mencintaiku
dimanapun dia melangkah
SETIAP KATAKU ADALAH KATA CINTA PADAMU
DIHATIKU HANYA ADA SATU NAMA YAITU KAMU
SETIAP LANGKAHKU HANYA UNTUKMU
AKU HIDUP UNTUK MENCINTAIMU
DAN AKU MATIPUN AKAN AKU KENANG DIRIMU
Tunggu Aku Cinta

Kasih...
Aku tau ku tak ada disisi mu
Aku tau kau merindukan ku
Kasih...
Tapi engkau juga harus tau
Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan
Tapi ingatlah kasih
Walau jarak memisahkan kita
Namun hati ni kan slalu menuju padamu
Kasih...
Aku juga tak lupa akan lambaian yg kamu berikan
Saat aku melepas mu pergi
Aku tak lupa dengan semua yabg kita lewati
Kasih...
Ingatlah akan apa yang tlah ku sampaikan
Aku hanya milik mu
Dan hati ini tak akan terbagi buat yang lain
Karena kamu lah pemenang hati ku
Kasih...
Walau hanya dengan kata-kata ini
Aku menyampaikan kerinduan ku pada mu
Walau kata-kata ini tak seindah puisi
Aku berharap
Engkau kan selalu menunggu kehadiran ku
Tunggu aku cinta.
kau tak hadir disini
seperti hari-hari yang dulu..
kalau ku punya sayap ku kan terbang kesana...
kasih..., dimanakah kau kini..??????
ingatkah kamu....
lambaian yang kau berikan saat itu...
dan langkah kakimu, ketukan daun pintu..
selalu mengusik penantianku...
dimalam minggu ku terasa sepi..
hari-hariku sunyi...
tiada lagi ku dengar rayuanmu...
lama kupendam rasa rindu
tiada lelah menanti...
hanya potretmu bisu..., berbisik rindu...
biar musim berganti..
aku tetep disini..
asal kau masih cinta...
biar mati kumau bila dipelukanmu
kukan menunggumu...
25 Jan 2010
Salju Band- Ku Katakan Aku Cinta (KKAC)

Kunyanyikan sebuah lagu
Lagu sendu yang ku cipta
Untuk dirimu seorang yang slalu ku puja
Dirimu yang enggan bicara
Ketika ku ajak bicara
Resapilah lagu ini
Hanyalah rinduku
Aku coba berusaha memberikan yang terbaik
Reff :
Ku katakan lagu cinta pada dirimu seorang
Daripada aku pendam bikin sakit hati
Kau bagaikan bunga bunga yang ada di taman surga
Memberikan kedamaian di dalam hidupku
Lirik Lagu Intan RJ- Cinta Yang Baru
Kuingin Engkau Ingin Kau Pergi Pergi Dariku Dari Hidupku Sudah Aku, Ku Tak Lagi Cinta Kamu Kau Cari Saja Cinta Yang Baru Cinta Yan...
-
Kuingin Engkau Ingin Kau Pergi Pergi Dariku Dari Hidupku Sudah Aku, Ku Tak Lagi Cinta Kamu Kau Cari Saja Cinta Yang Baru Cinta Yan...
-
KASIH Cinta ibarat kabut dilangit Cinta ibarat warna pelangi yang indah Karna cinta seulas senyumku tersungging Namun karna cinta pula aku m...
-
Sillanpää M , Camfield P , Camfield C , Haataja L , Aromaa M , Helenius H , Rautava P , Hauser WA . Sillanpää M , P Camfield , ...


